PRESTASI BELAJAR DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRESTASI BELAJAR
A. Belajar
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, belajar adalah berusaha memperoleh
kepandaian atau ilmu, berlatih, berubah tingkah laku atau tanggapan yang
disebabkan oleh pengalaman.
Cronbach
mengemukakan bahwa learning is shown by change in behaviour as a result
of experience (belajar sebagai suatu aktivitas yang ditunjukkan
oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman). Sedangkan,
Geoch, mengatakan : “Learning is a change in performance as a result of
practice”(belajar adalah perubahan dalam penampilan sebagai hasil praktek).
Definisi belajar dapat ditinjau dari sudut
pandang yang berbeda-beda, diantaranya: 1). Kuantitatif ,(ditinjau dari sudut
jumlah, belajar berarti kegiatan pengisian atau pengembangan kemampuan kognitif
dengan fakta sebanyak-banyaknya. Jadi, belajar dalam hal ini dipandang dari
sudut banyaknya materi yang dikuasai siswa. 2). Institusional (tinjauan
kelembagaan), belajar dipandang sebagai proses “validasi” atau pengabsahan
terhadap penguasaan siswa atas materi-materi yang telah ia pelajari. Bukti institusional yang menunjukkan siswa
telah belajar dapat diketahui sesuai proses mengajar. Ukurannya, semakin baik
mutu guru mengajar, semakin baik pula mutu perolehan siswa yang kemudian
dinyatakan dalam bentuk skor. 3) kualitatif (tinjauan mutu) ialah arti-arti
memperoleh pemahaman-pemahaman serta cara-cara menafsirkan dunia disekeliling
siswa. Belajar dalam pengertian ini difokuskan pada tercapainya daya fikir dan
tindakan yang berkualitas untuk memecahkan masalah-masalah yang kini dan nanti
dihadapi siswa.
Pada dasarnya
belajar ialah tahapan perubahan perilaku siswa yang felatif positif dan menetap
sebagai hasil interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.
SumadiSuryabrata menyimpulkan bahwa belajar itu membawa perubahan yang terjadi
karena adanya usaha dan mendapatkan keterampilan baru.
Slameto mendefinsikan, belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya.
Seseorang itu belajar karena interaksi dengan
lingkungannya .belajar itu senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau
penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati,
mendengarkan, meniru dan lain sebagainya.
Belajar adalah sebagai
rangkaian kegiatan jiwa raga, psiko-fisik untuk menuju ke perkembangan pribadi
manusia seutuhnya, yang berarti
menyangkut unsur cipta, rasa dan karsa, ranah kognitif, afektif dan
psikomotorik.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwabelajar
merupakan usaha sadar dalam perubahan tingkah laku, yang terjadi karena hasil
pengalaman-pengalaman baru sehingga menambah pengetahuan yang ada di dalam diri
seseorang.
B.
Prestasi
Belajar
Kemampuan intelektual siswa sangat menentukan
keberhasilan siswa dalam memperoleh prestasi. Untuk mengetahui berhasil
tidaknya seseorang dalam belajar maka perlu dilakukan suatu evaluasi, tujuannya
untuk mengetahui prestasi yang diperoleh siswa setelah proses belajar mengajar
berlangsung.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, prestasi
belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh
mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang
diberikan oleh guru.
Winkel (1996) mengemukakan bahwa prestasi
belajar merupakan bukti keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang.Maka
prestasi belajar merupakan hasil maksimum yang dicapai oleh seseorang setelah
melaksanakan usaha-usaha belajar.
Benyamin S. Bloom, prestasi belajar merupakan
hasil perubahan tingkah laku yang meliputi tiga ranah kognitif terdiri atas :
pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.
Pengertian prestasi belajar sendiri
menurut Syaiful Bahri Djamarah adalah hasil yang diperoleh berupa kesan – kesan
yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas
dalam belajar dan diwujudkan dalam bentuk nilai atau angka.
Slamento Abdul
Hadis mengatakan bahwa “belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan
individu dalam memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan,
sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi individu
dengan lingkungannya.
Menurut
Muhibbin Syah (2008) prestasi belajar adalah keberhasilan murid dalam
mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam bentuk skor yang
diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu.Sedangkan
menurut Taulus Tu’u (2004) prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau
keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan
nilai tes atau angka ynag diberikan oleh guru.
Jadi, prestasi belajar siswa dapat dirumuskan
sebagai berikut :
- Prestasi belajar siswa adalah hasil
belajar yang dicapai siswa ketika mengikuti dan mengerjakan tugas dan
kegiatan pembelajaran disekolah.
- Prestasi belajar tersebut terutama dinilai
oleh aspek kognitifnya karena bersangkutan dengan kemampuan siswa dalam
pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintes dan
evaluasi.
- Prestasi belajar siswa dibuktikan dan
ditunjukan melalui nilai atau angka nilai dari hasil evaluasi yang
dilakukan oleh guru terhadap tugas siswa dan ulangan-ulangan atau ujian
yang ditempuhnya.
C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Prestasi Belajar
Prestasi
belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar, karena
kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan prestasi merupakan hasil dari
proses belajar. Prestasi belajar merupakan ukuran keberhasilan yang diperoleh
siswa selama proses belajarnya. Keberhasilan itu ditentukan oleh berbagai
faktor yang saling berkaitan.
Menurut
Slamento (2003) dan Ngalim Purwanto (2002), factor yang mempengaruhi prestasi
belajar siswa terbagi dua, yaitu faktor Internal dan faktor Eksternal.
1.
Faktor Internal
Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri
seseorang yang dapat mempengaruhi prestasi belajarnya.Faktor internal
terdiri dari:
a)
Faktor Fisiologis (Jasmani)
Secara umum kondisi fisiologis, seperti
kesehatan yang prima, tidak dalam keadaan lelah dan capek, tidak dalam keadaan
cacat jasmani dan sebagainya. Hal tersebut dapat mempengaruhi peserta didik
dalam menerima materi pelajaran.
Keletihan fisik pada siswa berpengaruh juga
dalam prestasi belajarnya. Menurut Cross dalam bukunya The Psychology of
Learning, keletihan siswa dapat dikategorikan menjadi tiga macam factor yaitu:
a)
Keletihan indra
siswa
Keletihan indera dalam hal ini, lebih mudah
dihilangkan dengan cara istirahat yang cukup, tidur dengan nyenyak, dsb.
b)
Keletihan fisik
siswa
Keletihan fisik siswa berkesinambungan dengan
keletihan indera siswa, yakni cara menghilangkannya relative lebih mudah, salah
satunya dengan cara mengkonsumsi makanan
dan minuman yang bergizi, menciptakan pola makan yang teratur, merelaksasikan
otot-otot yang tegang.
c)
Keletihan
mental siswa
Keletihan mental siswa ini dipandang sebagai
faktor utama penyebab adanya kejenuhan dalam belajar, sehingga cara mengatasi
keletihannya pun cukup sulit. Penyebab timbulnya keletihan mental ini
diakibatkan karena kecemasan siswa terhadap dampak yang ditimbulkan oleh
keletihan itu sendiri, kecemasan siswa terhadap standar nilai pada pelajaran
yang dianggap terlalu tinggi, kecemasan siswa ketika berada pada keadaan yang
ketat dan menuntut kerja intelek yang berat, kecemasan akan konsep akademik
yang optimum sedangkan siswa menilai belajarnya sendiri hanya berdasarkan
ketentuan yang ia bikin sendiri (self-imposed).
b)
Faktor
psikologis (intelegensi, minat, bakat, motivasi)
Setiap individu peserta didik, pada dasarnya
memiliki kondisi psikologis yang berbeda-beda, tentunya hal ini turut
mempengaruhi hasil belajarnya. Beberapa faktor psikologis meliputi :
1)
Intelegensi/
Kecerdasan
Kecerdasan adalah kemampuan belajar disertai
kecakapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya.. Kemampuan ini
sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya intelegensi yang normal, selalu
menunjukkan kecakapan sesuai dengan tingkat perkembangan sebaya. Adakalanya
perkembangan ini ditandai oleh kemajuan-kemajuan yang berbeda antara satu anak
dengan anak yang lainnya, sehingga seseorang anak pada usia tertentu sudah
memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kawan
sebayanya. Maka Slameto-punmengatakan bahwa tingkat intelegensi yang tinggi
akan lebih berhasil daripada yang mempunyai tingkat intelegensi yang rendah.
Jika siswa mengalami tingkat intelegensi yang
rendah, siswa tidak dapat mencerna pelajaran
dengan baik, dia akan mendapatkan kesulitan dalam belajarnya. Adapun
makna dari kesulitan belajar itu sendiri, yaitu
anak-anak ataupun remaja yang mengalami kesulitan belajar (learning
disability) memiliki intelegensi normal ataupun diatas rata-rata namun
mengalami kesulitan setidaknya satu mata pelajaran, biasanya beberapa bidang
akademis, dan kesulitan mereka tidak dapat dijelaskan oleh masalah atau
gangguan lain sesuai hasil diagnosis, seperti retardasi mental. Konsep umum dalam kesulitan belajar meliputi
masalah dalam mendengarkan, konsenterasi, berbicara, dan berfikir
(Raymon,2004).Berdasarkan ketentuan remaja tidak dinyatakan mengalami
masalah akademis. (Frances dkk., 2005).
Dan dari
kesulitan belajar inilah maka akan terjadi kejenuhan dalam belajar. Kejenuhan
dapat diartikan padat atau jenuh sehingga tidak mampu lagi memuat apapun.Dan
jenuh dapat diartikan dengan bosan. Kejenuhan belajar adalah rentang waktu
tertentu yang digunakan untuk belajar, tetapi tidak membuahkan hasil (Reber,
1988).
Seorang siswa yang mengalami kejenuhan belajar
merasa seakan-akan pengetahuan yang diperoleh dan kecakapan yang di peroleh
tidak ada kemajuan. Seorang siswa yang sedang mengalami kejenuhan ini sistem
akalnya tidak akan bekerja dengan baik seperti sebagaimana yang diharapkan.
Kejenuhan belajar dapat melanda siswa apabila ia telah kehilangan motivasi dan
kehilangan konsolidasi salah satu tingkat keterampilan tertentu sebelum siswa
sampai pada tingkat keterampilan berikutnya (Chaplin, 1972).
2)
Minat
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk
memperhatikan dan mengenal beberapa kegiatan.Kegiatan yang dimiliki seseorang
diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa sayang.Slameto
mengemukakan bahwa minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan
dan mengenang beberapa kegiatan, kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan
terus yang disertai dengan rasa kasih sayang.
minat besar pengaruhnya terhadap belajar atau kegiatan. Bahkan pelajaran yang
menarik minat siswa lebih mudah dipelajari dan disimpan karena minat menambah
kegiatan belajar.Untuk menambah minat seorang siswa di dalam menerima pelajaran
di sekolah siswa diharapkan dapat mengembangkan minat untuk melakukannya
sendiri.
3)
Bakat
Bakat adalah kemampuan tertentu yang telah
dimiliki seseorang sebagai kecakapan pembawaan. Pernyataan ini sesuai dengan
apa yang dikemukakan oleh Ngalim Purwanto[1][18]bahwa
bakat dalam hal ini lebih dekat pengertiannya dengan kata attitude yang
berarti kecakapan, yaitu mengenai kesanggupan-kesanggupan tertentu. Tumbuhnya
keahlian tertentu pada seseorang sangat ditentukan oleh bakat yang dimilikinya
sehubungan dengan bakat ini dapat mempunyai tinggi rendahnya prestasi belajar
bidang-bidang studi tertentu. Dalam proses belajar terutama belajat
keterampilan, bakat memegang peranan penting dalam mencapai suatu hasil akan
prestasi yang baik. merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil
belajarnya. Apabila seseorang mempunyai minat yang tinggi terhadap sesuatu hal
maka akan terus berusaha untuk melakukan sehingga apa yang diinginkannya dapat
tercapai sesuai dengan keinginannya.
4)
Motivasi
Motivasi dalam belajar adalah faktor yang
penting karena hal tersebut merupakan keadaan yang mendorong keadaan siswa
untuk melakukan belajar. Persoalan mengenai motivasi dalam belajar adalah
bagaimana cara mengatur agar motivasi dapat ditingkatkan. Demikian pula dalam
kegiatan belajar mengajar sorang anak didik akan berhasil jika mempunyai
motivasi untuk belajar.
5)
Konsep Diri
konsep diri adalah penilaian seseorang terhadap
dirinya sendiri, atau pandangan orang kain terhadap dirinya baik secra fisik,
sosial dan spiritual. Jenis-jenis konsep diri terbagi menjadi dua, yaitu :
a)
Konsep diri
Positif
merupakan konsep diri yang membuat seseorang mampu menilai dirinya sendiri,
mampu menerima kelebihan serta kekurangannya dan mempunyai tujuan untuk
menghilangkan kekurangan yang ada dalam dirinya sehingga menjadi pribadi yang
lebih baik. Konsep diri yang positif akan mempermudah kita mencapai kesuksesan.
b)
Konsep diri
negatif merupakan
penilaian terhadap diri sendiri yang menilai bahwa dirinya itu lemah, banyak
kekurangannya, bersifat pesimis. Sehingga semakin sulit orang berkonsep diri
negatif ini mencapai kesuksesan.
Dengan adanya konsep diri yang positif akan
menimbulkan pribadi yang penuh rasa percaya diri, optimis, berani menghadapi
tantangan. Sedangkan dengan konsep negatif akan menimbulkan ketidak percaya
dirian, memiliki rasa takut gagal dan pesimis.
Bidang-bidang perkembangan pribadi dan sosial
yang penting bagi anak-anak sekolah dasar adalah konsep diri dan harga diri.
(Swann dkk.,2007). Kedua aspek perkembangan anak-anak ini akan sangat
dipengaruhi oleh pengalaman dalam keluarga, sekolah, dan dengan teman sebaya.
Konsep diri meliputi cara kita memahami kekuatan, kelemahan, kemampuan, sikap
dan nilai. Perkembangannya dimulai sejak lahir dan terus-menerus dibentuk oleh
pengalaman. Harga diri merujuk pada proses kita mengevaluasi kemampuan dan
keterampilan yang kita miliki.
2.
Faktor Eksternal
Faktor-faktor
yang berasal dari luar diri seseorang. Hal ini dapat berupa sarana
prasarana, situasi lingkungan baik itu lingkungan keluarga, sekolah maupun
lingkungan masyarakat. Faktor eksternal terdiri dari:
a)
Faktor
keluarga,
Keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama dan utama bagi siswa. Dari
lingkungan keluarga inilah yang pertama kali anak dikenalkan dan menerima
pendidikan dan pengajaran terutama dari ayah dan ibunya. Pengaruh keluarga bagi
siswa adalah berupa: cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga,
suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, dan latar
belakang kebudayaan. Keterlibatan orang tua dalam kegiatan sekolah
memiliki pengaruh terhadap prestasi akademik siswa. Dengan adanya perhatian
dari orang tua terhadap pendidikan akan membuat anak termotivasi untuk belajar.
Pola asuh orang tua sangat memengaruhi prestasi
anak dalam belajar disekolahnya.Pada umumnya orang tua menginginkan yang
terbaik untuk anaknya, tetapi seringkali orang tua keliru dalam mengasuh
anak-anaknya. Manurut Diana Bamruid (1991), ada empat gaya pengasuhan orang
tua, yaitu :
o Pengasuhan
orang tua otoritarian (authoritarian parenting)
Merupakan gaya yang bersifat menghukum dan
membatasi dimana orang tua berusaha keras agar remaja mengikuti pengarahan yang
diberikan dan menghormati pekerjaan dan usaha-usaha yang telah dilakukan oleh
orang tua. Orang tua otoritarian merupakan orang tua yang memberikan
batasan-batasan dan kendali yang tegas terhadap remaja dan kurang komunikasi
secara verbal.Gaya ini berkaitan dengan remaja yang tidak berkompeten secara sosial.
o Pengasuhan orang tua otoritatif (authoritative
parenting)
Merupakan gaya yang mendorong anak untuk
bersikap mandiri namun masih membatasi dan mengendalikan aksi-aksi mereka.
Orang tua otoritatif adalah gaya yang memberikan kesempatan mereka untuk
berdialog secara verbal. Selain itu orang tua juga bersikap hangat dan
mengasuh.gaya ini berkaitan dengan anak yang remaja secara social.
o Pengasuhan
orang tua yang acuh tak acuh (neglectful parenting)
Sebuah gaya dimana orang tua tidak terlibat
dalam kehidupan remaja. Gaya ini berkaitan dengan ketidak kompetenan remaja
secara sosial, khususnya kurangnya pengendalian diri.
o Pengasuhan orang tua yang permisif (indulgent
parenting)
Suatu gaya pengasuhan dimana orang tua sangat
terlibat dalam kehidupannya, namun hanya memberikan sedikit tuntunan atau
kembali terhadap mereka. Gaya ini berkaitan dengan ketidak kompetenan remaja,
khususnya pengendalian diri.
b)
Faktor
lingkungan sekolah, mempunyai pengaruh terhadap keberhasilan siswa
dalam belajar karena hampir sepertiga dari kehidupan siswa sehari-hari berada
disekolah. Faktor yang dapat menunjang keberhasilan adalah metode mengajar
guru, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, sarana
dan prasarana pembelajaran, kedisiplinan waktu yang diterapkan.
c)
Faktor
masyarakat, Faktor lingkungan masyarakat disebut juga
sebagai faktor lingkungan sekitar siswa dimana ia tinggal, Faktor lingkungan
masyarakat ini juga memberikan pengaruh terhadap keberhasilan siswa.
Diantaranya yaitu kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul,
dan bentuk kehidupan masyarakat.
Namun, Muhibbin
Syah (2013) berpendapat bahwa ada tiga faktor yang mempengaruhi prestasi
belajar, yaitu faktor internal, eksternal, dan pendekatan belajar.
1. Faktor Internal
Faktor yang berasal dari dalam diri individu
yang sedang belajar. Faktor ini meliputi 2 aspek, yaitu:
a) Faktor Fisiologis (jasmani) yang meliputi
kesehatan dan cacat tubuh
Kondisi umum
jasmani atau tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran
organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, yang memperngaruhi semangat dan intensitas
siswa dalam mengikuti pelajaran. Jika seorang siswa kondisi fisiknya kurang
sehat, maka akan menurunkan kualitas ranah cipta (kognitif) sehingga
menyebabkan kesulitan menerima materi dengan baik.
Kondisi
organ-organ khusus siswa, seperti tingkat kesehatan indera pendengar dan indera
penglihatan sangat memengaruhi siswa dalam
menyerap materi atau informasi yang baru, terutama ketika proses belajar
mengajar berlangsung.
b) Faktor Psikologis
Merupakan suatu
aspek yang dapat memengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan belajar
siswa.Adapun faktor-faktor rohaniah siswa pada umumnya dipandang lebih
esensial, yaitu meliputi tingkat inteligensi/kecerdasan, minat, bakat, dan
motivasi.
2. Faktor Eksternal
Faktor yang berasal dari luar individu, yang
terdiri atas dua macam, yaitu:
a) Lingkungan Sosial
Lingkungan
sosial sekolah seperti para guru, para tenaga kependidikan (kepala sekolah dan
wakil-wakilnya) dan teman-teman sekelas dapat memengaruhi semangat belajar
seorang siswa. Selanjutnya, lingkungan sosial masyarakat dan tetangga juga
teman-teman sepermainan di sekitar tempat tinggal siswa tersebut. Dan
lingkungan sosial yang paling banyak memengaruhi kegiatan belajar adalah orang
tua dan keluarga itu sendiri. Seperti sifat-sifat orang tua, praktik
pengelolaan keluarga, dan ketegangan
keluarga semuanya dapat member dampak baik atau buruk terhadap kegiatan belajar
dan hasil yang dicapai oleh siswa.
b) Lingkungan Nonsosial
Faktor yang
meliputi lingkungan nonsosial adalah sarana dan prasarana yang ada di sekolah,
seperti gedenga sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga dan
letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan keadaan waktu belajar yang
digunakan siswa. Faktor-faktor ini dianggap dapat memengaruhi keberhasilan belajar
siswa.
3.
Faktor
Pendekatan Belajar (approach to learning)
yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi
strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan
pembelajaran materi-materi pelajaran. Adapun ragam pendekatan
belajar yang dipandang respentatif (mewakili) pendekatan klasik dan modern,
adalah sebagai berikut :
a)
Pendekatan
Hukum Jost
Menurut Reber (1988), salah satu asumsi paling
pentingyang mendasari Hukum Jost (Jost’s Law) adalah siswa yang lebih sering
mempraktikan materi pelajaran akan lebih mudah memanggil kembali memori-memori
lama yang berhubungan dengan materi yang sedang ditekuni. Berdasarkan asumsi
Hukum Jost, maka belajar dengan kiat 5 x 3 lebih baik daripada 3 x 5, walaupun
hasil perkalian keduanya sama. Maksudnya,
mempelajari sebuah materi atau bidang studi, dengan alokasi waktu 3 jam
per hari selama 5 hari dipandang lebih efektif daripada mempelajari 5 jam per
hari selama 3 hari. Pendekatan belajar dengan cara dicicil dipandang lebih
efektif, terutama untuk materi-materi yang bersifat hafalan atau pembiasaan
seperti keterampilan berbahasa Inggris.
b)
Pendekatan
Ballard & Clanchy
Menurut Ballard & Clanchy (1990),
pendekatan belajar siswa pada umumnya dipengaruhi oleh sikap terhadap ilmu
pengetahuan (attitude to knowledge). Ada dua macam siswa dalam menyikapi
ilmu pengetahuan, yaitu :
1)
Sikap
melestarikan materi yang sudah ada (conserving)
Siswa pada kategori ini, biasanya menggunakan
pendekatan “reproduktif” (bersifat menghasilkan kembali fakta dan informasi
yang sudah ada).
2)
Sikap
memperluas materi (extending)
Siswa pada kategori ini, biasanya mengunakan
pendekatan belajar “analitis” (berdasarkan pemilahan dan interpretasi fakta dan
informasi).Dan cukup banyak yang menggunakan pendekatan yang lebih ideal yaitu
“spekulatif” (berdasarkan pemikiran mendalam) yang bertujuan menyerap
pengetahuan dan mengembangkannya.
c)
Pendekatan Biggs
Menurut penelitian Biggs (1991), pendekatan
belajar siswa dapat dikelompokkan menjadi tiga prototype (bentuk dasar), yaitu:
1)
Pendekatan surface
(pemukaan/bersifat lahiriah)
Siswa yang menggunakan pendekatan ini, biasanya
karena motif eksternal, yakni munculnya keinginan belajar karena dorongan dari
luar, antara lain karena takut dia tidak lulus yang menyebabkan dia malu. Maka
gaya belajar siswa ini pun santai, asal hafal dan tidak mementingkan pemahaman
yang mendalam.
2)
Pendekatan deep
(mendalam)
Siswa yang menggunakan pendekatan ini,
kebalikan dari siswa yang menggunakan pendekatan surface.Siswa ini
mempunyai motif internal yang kuat, lantaran karena dia memang tertarik dan
merasa membutuhkan. Maka gaya belajar siswa ini serius dan berusaha memahami
materi secara mendalam, dan memikirkan cara mengaplikasikannya. Bagi siswa ini,
lulus dengan nilai bagus itu penting, tetapi lebih penting memiliki pengetahuan
yang banyak dan bermanfaat bagi kehidupannya.
3)
Pendekatan achieving
(pencapaian prestasi tinggi)
Siswa yang mengunakan pendekatan ini, biasanya
dilandasi oleh motif ekstrensik yang berciri khusus yaitu “ego-enchancement”
yaitu ambisi yang besar dalam meningkatkan prestasi keakuan dirinya dengan cara
meraih indeks prestasi setinggi-tingginya. Gaya belajar siswa ini lebih serius
daripada siswa-siswa yang mengunakan pendekatan lainnya.Siswa ini, memiliki
keterampilan belajar (study skills) yakni dia sangat cerdik dan efisien
dalam mengatur waktu. Baginya, berkompetisi dengan teman-teman dalam memperoleh
nilai tertinggi adalah penting, sehinga ia sangat disiplin, sistematis serta
berencana maju ke depan (plans ahead).
John Biggs menyimpulkan bahwa
prototipe-prototipe pendekatan belajar tersebut pada umunya digunakan pada
siswa berdasarkan motifnya, bukan karena sikapnya terhadap pengetahuan.Namun,
sepertinya ada keterkaitan antara motif siswa dengan sikapnya
terhadap pengetahuan.